Anggota Komisi IX DPR RI Muhammad Haris mengapresiasi percepatan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilakukan Badan Gizi Nasional (BGN). Menurutnya, akselerasi program tersebut perlu terus didukung sekaligus dievaluasi agar manfaatnya benar-benar dirasakan kelompok masyarakat yang menjadi sasaran.
Haris menilai MBG tidak semata-mata merupakan program pemberian makanan kepada anak, tetapi juga harus menjadi sarana edukasi mengenai pola makan bergizi dan seimbang bagi masyarakat.
“Tentu pertama kita memberikan apresiasi terhadap langkah start yang saya kira sangat cepat dalam melakukan pembenahan – pembenahan terhadap BGN, terutama program MBG. Sehingga kita lihat dalam waktu sebulan ini akselerasinya sudah saya kira luar biasa,” ujar Haris kepada Politikarlemen.co di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Ia menekankan pentingnya evaluasi terhadap pelaksanaan MBG, terutama untuk memastikan sasaran penerima manfaat sesuai dengan tujuan program. Menurutnya, kelompok yang perlu menjadi perhatian mencakup ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta anak-anak sekolah.
“Saya kira itu bagian dari hal yang penting untuk kita evaluasi karena sesungguhnya MBG ini bukan hanya sekedar memberikan makan kepada anak-anak tapi memberikan edukasi, makanan bergizi, makanan yang seimbang kepada masyarakat sehingga sasarannya juga harus tepat,” jelasnya.
Haris mengatakan ketepatan sasaran menjadi semakin penting karena MBG diharapkan berkontribusi terhadap percepatan penurunan angka stunting di Indonesia. Ia menyebut angka stunting saat ini masih berada di kisaran 19 persen, sementara pemerintah menargetkan angka tersebut turun menjadi 14 persen pada 2029.
“Angka stunting kita di tahun ini masih 19 persen, di tahun 2029 target pemerintah ada 14 persen. Masih ada 5 persen yang harus dilakukan, dikurangi, sehingga kita berharap pemberian manfaat ini betul-betul tepat sasaran,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Haris kembali menegaskan bahwa keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari seberapa banyak makanan yang disalurkan. Kandungan gizi, keseimbangan makanan, serta edukasi kepada masyarakat harus menjadi bagian dari pelaksanaan program agar dampaknya terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“MBG ini lagi-lagi bukan sekedar memberikan makanan tambahan tapi memberikan makanan tradisi sehingga program pengurangan stunting pada saatnya menghilangkan stunting di negara kita ini harus betul-betul berhasil,” tegasnya.
Haris berharap keberlanjutan dan ketepatan pelaksanaan MBG dapat menjadi salah satu fondasi untuk mewujudkan generasi Indonesia yang sehat dan bebas stunting. Ia menargetkan, pada momentum Indonesia Emas 2045, persoalan stunting tidak lagi menjadi beban kesehatan masyarakat.
“Sehingga pada saatnya ketika kita merayakan ulang tahun emas, kemerdekaan tahun 2045, betul-betul sudah terbebas dari stunting di negara kita ini,” pungkasnya.
