Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya mengusulkan agar kemampuan membaca dan menulis menjadi salah satu variabel dalam pengurangan masa tahanan bagi warga binaan. Menurutnya, literasi dapat menjadi ruang konversi dari regulasi menuju proses pembinaan yang lebih produktif dan manusiawi.
Hal itu disampaikan Willy dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XIII DPR RI ke Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Jawa Barat, Jumat (25/9/2026). Ia mengatakan, gagasan tersebut merupakan bagian dari gerakan literasi yang perlu dikembangkan di lingkungan lembaga pemasyarakatan.
“Saya sudah sampaikan di dalam rapat kerja bersama menteri bahwasannya pengurang masa tahanan itu salah satu variabelnya adalah sebanyak apa orang sudah membaca dan menamatkan buku, yang kedua sejauh apa orang bisa menulis,” kata Politisi Fraksi Partai NasDem tersebut.
Menurutnya, pembinaan warga binaan tidak seharusnya berhenti pada kepatuhan terhadap aturan. Sistem pemasyarakatan juga perlu memberikan ruang bagi warga binaan untuk mengembangkan kemampuan dan menghasilkan karya sebagai bagian dari proses reintegrasi ke masyarakat.
“Sebuah regulasi harus dibikinkan ruang konversi. Apa ruang konversinya? Yaitu ruang membaca dan menulis. Kita kembali ke hal yang paling basic,” ujar Legislator Dapil Jawa Timur XI itu.
Willy menilai, sejarah menunjukkan bahwa penjara tidak selalu menjadi penghalang bagi seseorang untuk menghasilkan karya besar. Ia mencontohkan sejumlah tokoh yang menghasilkan karya ketika berada di dalam penjara.
“Kalau mau melihat sejarah, karya-karya besar yang ditulis oleh orang-orang besar itu rata-rata dari dalam penjara. Kita lihat bagaimana Nelson menulis dari dalam penjara, kita melihat bagaimana Tan Malaka menulis, Bung Karno menulis, Antonio Gramsci menulis, bahkan secara spesifik Antonio Gramsci menulis tentang penjara,” katanya.
Ia juga menyinggung Buya Hamka yang menyelesaikan karya tafsir Al-Qur’an ketika menjalani masa tahanan. Menurut Willy, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ruang pemasyarakatan juga dapat menjadi tempat tumbuhnya produktivitas dan pemikiran.
Willy mengatakan, gagasan tersebut telah mulai dipraktikkannya di sejumlah lapas, termasuk Lapas Cipinang. Ia berencana mengirimkan tim asistensi ke Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung untuk membantu warga binaan mengembangkan kemampuan membaca dan menulis.
“Saya tidak hanya berhenti di sini, habis ini saya akan kirim tim asistensi yang akan mengajari teman-teman bagaimana membaca, bagaimana menulis,” tuturnya.
Lebih lanjut, Willy menilai sistem pembinaan saat ini masih terlalu bertumpu pada satu indikator, yakni ketaatan warga binaan terhadap aturan. Padahal, menurutnya, terdapat berbagai aspek lain yang dapat menjadi ukuran keberhasilan proses pembinaan.
“Variabel kita selama ini kan variabel tunggal, itu ketaatan kepada aturan, kita tidak lihat variabel yang lain bahwasannya, kalau lapas benar-benar menjadi ruang reintegrasi dari memanusiakan manusia, harusnya kita berpikir pada titik yang produktif,” jelasnya.
Ia berharap kemampuan menghasilkan karya dapat menjadi indikator yang lebih substantif dalam melihat perubahan warga binaan. Dengan menulis, misalnya, warga binaan dapat merefleksikan pengalaman, lingkungan, serta interaksi yang mereka alami selama berada di dalam lapas.
“Ketika dia menulis realitasnya, kita bayangkan bagaimana seorang warga binaan bisa menulis cerita tentang temannya di dalam sel. Seorang warga binaan bisa menulis tentang bagaimana petugas lapas, itu interaksi yang sangat manusiawi sekali,” pungkas Willy.
