Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, mendorong penguatan kemandirian pangan di tingkat keluarga di Kabupaten Tegal selama masa reses pada 27 April hingga 5 Mei 2026. Upaya tersebut diwujudkan melalui penyaluran bantuan stimulan berupa benih lele, bibit ayam, serta benih sayuran kepada masyarakat. Program ini ditujukan untuk memperkuat daya tahan warga dalam menghadapi potensi gangguan distribusi logistik akibat krisis energi global.
Fikri menjelaskan, kondisi global saat ini menempatkan Indonesia dalam posisi yang cukup rentan terhadap dinamika geopolitik. Meski cadangan pangan nasional dinilai aman hingga 324 hari ke depan, sektor energi justru menghadapi tantangan serius dengan cadangan bahan bakar minyak (BBM) yang hanya berada pada kisaran kritis 21 hingga 28 hari.
Menurutnya, krisis energi global dapat berdampak langsung pada terganggunya distribusi barang, termasuk pangan, di tingkat lokal. Situasi tersebut berpotensi melumpuhkan rantai pasok meskipun ketersediaan pangan secara nasional masih mencukupi.
“Ketahanan pangan nasional sejatinya bermula dari ketahanan pangan di meja makan keluarga kita sendiri. Dengan memanfaatkan lahan sempit di rumah untuk menanam sayur dan beternak skala kecil, kita tidak hanya menghemat pengeluaran, tetapi juga memastikan gizi keluarga terpenuhi dengan baik,” ujar Fikri dalam keterangannya, Selasa (5/5/2026).
Untuk itu, bantuan yang diberikan dirancang sebagai paket ketahanan pangan mikro yang mencakup ayam kampung, budidaya lele dalam galon, serta penanaman sayuran dengan metode polybag.
Konsep tersebut diharapkan dapat membentuk ekosistem pangan rumah tangga yang berkelanjutan dan minim limbah. Limbah dari satu komponen dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber nutrisi bagi komponen lainnya, sehingga menciptakan sistem sirkular yang efisien.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga menjadi produsen bagi kebutuhannya sendiri. Inilah wujud kemandirian yang ingin kita bangun bersama,” tambah legislator dari daerah pemilihan Jawa Tengah IX yang meliputi Kota Tegal, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Brebes itu.
Program pembagian paket ketahanan pangan ini pun mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat. Warga menilai bantuan tersebut relevan dengan kebutuhan ekonomi sehari-hari sekaligus memberikan edukasi praktis dalam membangun lumbung pangan mandiri dari skala rumah tangga.
Antusiasme masyarakat terlihat dari tingginya partisipasi warga dalam menerima dan mempelajari cara pengelolaan bantuan tersebut. Diharapkan, program ini dapat menjadi langkah awal dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis keluarga di daerah.
